Tag: bapakasi

Minta Bantuan Sama Suami

Siapa yang setuju jika ada pertanyaan begini, Ayah/Suami cenderung tidak peduli untuk membantu mengurus anak atau rumah? Hampir sebagian besar ibu yang ditanyakan pertanyaan ini menjawab setuju, mungkin hanya sebagian kecil yang menjawab tidak. Tapi pertanyaan lanjutannya adalah, apakah benar Ayah tidak peduli? Kami tidak sependapat dengan itu, kami justu percaya Ayah sangat peduli pada keluarga dan anak-anaknya, lah kan itu anak dan istrinya sendiri.

Ernest Prakasa dalam buku Catatan AyahASI menulis bahwa Ayah bukan tidak peduli, melainkan tidak tahu caranya untuk peduli. Ini benar. Jadi jika ditanya apakah Ayah peduli sama keluarga? Oh iya, kami peduli. Tapi jika ditanya kenapa tidak mau bantuin, kami akan jawab, bukan tidak mau bantuin, tapi kita enggak bisa dan enggak tahu. Gimana dong?

Ada hal yang melatarbelakangi kami menjadi begini. Pola asuh. Dari kecil kan laki-laki tidak diperbolehkan masuk ke ruang domestik, tidak boleh main boneka, tidak boleh main masak-masakan, ketika jadi suami pun ada yang melarang kami cuci piring dan cuci baju. Laki-laki – oleh masyarakat kita – lebih disiapkan menjadi seorang suami dibanding menjadi seorang Ayah. Ketika punya anak, kami jadi gagap, ini anak mau diapain aja yah? Akhirnya kami serahkan ke istri.

Lalu bagaimana caranya agar Ayah juga bisa terlibat dalam proses pengasuhan dan menyusui? Mungkin beberapa cara ini bisa dicoba, barangkali berhasil.

  • Bilang Aja

Okeh, perempuan seringkali memang senang jika dibantu tanpa harus bilang terlebih dahulu, ya kan? Kaya dingertiin banget gitu. Tapi buat kita enggak bisa begitu. Kalo enggak bilang, kita justru menganggap istri enggak butuh bantuan, kan udah dikerjain. Jadi daripada kesel sendiri, lebih baik bilang aja apa adanya. Bilang aja butuh bantuan untuk mandiin anak atau butuh bantuan untuk jemurin pakaian. Kenapa enggak inisiatif aja sih? Mau sih, tapi kan seringkali perempuan sudah ada SOP-nya sendiri baik untuk mandiin anak atau mencuci piring, nanti kalau kita pakai cara kita sendiri pasti disalahin kan? Yak an? Hahaha. Jadi, biasakan ngobrol sama pasangan yak, minta bantuan.

  • Jangan Dicerewetin Dulu

Ini seringkali terjadi. Istri udah naik pitam, enggak sabaran dan melihat cara mandiin anak atau cara mengepelnya tidak sesuai dengan SOP istri. Balik ke soal cara laki-laki dibesarkan tadi, ego laki-laki memang tinggi banget..hahaha..dan untuk bantuin istri di rumah, kita harus menurunkan ego kita sekian ratus derajat. Udahlah terpaksa ngerjainnya karena dianggap menganggu waktu santainya, harus menurunkan ego, eh pas lagi bantuin ternyata istri sudah ada di belakang terus marahin kita. Kan malesin. Apa enak kalo kerja diawasin melulu? Biarkan kami melakukan pekerjaan yang diminta sesuai dengan pemahaman kami, kami punya cara sendiri kok, yang penting kan tujuan akhir tercapai, ya enggak?

  • On The Job Training

Balik ke tulisan pengantar tadi, kami tidak pernah diajarin soal urusan rumah tangga dan mengasuh anak. Jadi, latih aja kita, ajarin gitu. Contoh misalnya memandikan anak. Pertama minta bantuan, “Yah, besok pagi bantuin mamah mandiin si kecil yah?”. Jadi kita udah siapkan mental dan fisik untuk kegiatan besok hari. Nah, pada tahap ini, minta Ayah untuk sekadar pegang bayi aja, karena laki-laki cenderung tidak mau diajarin dan belajar dengan cara mengamati, yah ditambahin tutorial juga oke sih. Ini bisa berlaku untuk semua hal yah, misalnya cuci piring, minta si ayah nemenin aja dulu dan bantu letakkan piring yang sudah bersih, dari sini lagi-lagi kita akan belajar sendiri. Jika dalam beberapa kali kesempatan dirasa cukup, naikkan tingkatannya, dari sekadar pegang bayi pas mandi, minta suami untuk sabunin bayi. Terus meningkat hingga kita bisa percaya dan lepas suami mengerjakan pekerjaan rumah tangga dan mengurus bayi.

  • Kasih Tanggung Jawab dan Percaya

Coba deh, pada suatu waktu, 1 hari aja, atau kalau memang enggak tega yah kasih waktu setengah hari deh untuk meninggalkan anak dengan pak suami aja. Jangan khawatir, kan itu juga anaknya, pasti akan dijaga dan tidak akan dicelakai kok. Biarkan pak suami mengurus anak dan mengurus rumah dengan caranya sendiri. Istri silahkan menikmati me-timenya. Memberikan tanggung jawab dan kepercayaan ini penting buat kami, paling tidak pak suami merasa bahwa dirinya berguna. Haha

  • Bikinnya Berdua, Ngurus Anaknya Juga Berdua

Jangan lupa ngobrol berdua, sepakati dulu bagaimana pola asuh yang akan dipakai oleh suami-istri, jangan sampai kita beranten di depan anak hanya gara-gara ingin menyenangkan anak. Ibu bilang A, Ayah bilangnya B, anaknya bingung. Bagi peran antara Suami dan Istri, kapan waktu Suami untuk bantuin urusan rumah dan mengurus anak, ini penting agar tidak terjadi perang dunia ke 3. Kan enak jika semuanya bisa diobrolin, jangan disimpen sendiri aja, kan udah jadi Suami-Istri, ya masa masih malu kaya zaman pacaran?

Udah cobain beberapa tips di atas tapi si Ayah belum bergerak juga? Coba cari strategi lain, mungkin perlu dipaksa sedikit, dengan langsung meninggalkan anak dan pak suami. Kita lihat bagaimana dia melewati hari-harinya. Kadang, cara ini juga berhasil. Langung belajar dari pengalaman. Ceritain pengalamanya dong soal berbagi peran antara suami dan istri di sosial media AyahASI, yang jelas, pengasuhan ini milik bersama, jadi bikinnya berdua, yah ngurus anaknya juga berdua.


AyahASI Indonesia (Rahmat) | Untuk tahu lebih banyak soal AyahASI silahkan kunjungi sosial media kami di @ID_AyahASI dan website di www.ayahasi.org

Artikel di atas merupakan hasil kerjasama BukaReview dan AyahASI Indonesia dan dapat dilihat di bit.ly/BukaReviewXAyahASI7

Pipiih, Bantuin Doong Aku Menyapiiih….

Menyapih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna menyarak (menghentikan anak menyusu). AyahASI pernah bikin survey kecil-kecilan di twitter menanyakan siapa sebenarnya yang lebih sedih ketika waktu menyapih sudah tiba. Jawaban yang paling banyak adalah, Ibu. Menyapih ini memang harus dilalui dengan drama, baik di ibunya, anaknya bahkan bisa jadi Ayahnya. Film Milly & Mamet karya Ernest Prakasa menampilkan adegan kerewelan Ayah dalam isu menyapih ini dengan apik.

Kenapa dibilang bukan tugas ibu saja? menurut kita, Ayah justru lebih berperan banyak dalam proses menyapih ini, kenapa? Karena begitu anak nyium bau ibunya, bawaannya selalu pengen nenen aja. Ayah sama Anak sama aja kalo soal ini, maunya nempel aja ke tetek. Haha. Dalam proses menyapih sebaiknya dihindari menggunakan hal-hal yang memaksa anak untuk berhenti menyusui, misalnya dengan memberi pahit-pahitan atau memanggil dukun. Ingat enggak? Waktu kita minta anak untuk menyusui enggak pakai paksa-paksaan kan? Nah, berhenti menyusui juga sebaiknya tidak perlu dipaksa. Pakai kasih sayang gitu kan lebih baik. Perlu diingat, berhenti menyusui butuh proses, jangan mendadak. Jadi kalo besok hari anaknya udah berusia 2 tahun, yah bukan berarti langsung stop menyusui. Dari pengalaman, minimal butuh waktu 3-6 bulan untuk berproses menyapih ini hingga pada Hari H. Mudahnya, kita paparkan dalam 5 langkah berikut.

Tetapkan Kapan Anak akan Disapih?

Tidak perlu nunggu anak kita berusia 2 tahun baru mikir kapan menyapih, lebih baik semenjak usia 6 bulan atau 1 tahun udah mulai tentukan kapan anak akan disapih. Ini kesepakatan si ibu, si ayah dan si anak, yang jelas Kementerian Kesehatan dan WHO merekomendasikan bahwa sebaiknya meneruskan menyusui hingga anak berusia 2 tahun. Kenapa tenggat waktu ini penting, karena jika memutuskan anak akan disapih saat usia 2 tahun, maka sebaiknya proses menyapih sudah dimulai sejak anak berusia 1 atau 1.5 tahun. Artinya, menghentikan anak menyusui itu harus bertahap, jangan kaya ngerem mendadak dikala mobil sedang berjalan.

Lakukan Sosialisasi

Seperti yang sudah sering dibilang, menyusui butuh dukungan semua pihak, termasuk dari seluruh anggota keluarga. Pun termasuk soal menyapih ini, juga membutuhkan dukungan semua pihak. Sosialisasi ini penting agar anak dan keluarga paham bahwa kita sedang melakukan proses menyapih. Sosialisasi bermanfaat juga agar anak merasa dilibatkan dalam proses menyapih. Enggak perlu sampe bikin kampanye di sosial media atau bikin petisi juga sih. Sosialisasi yang dimaksud adalah mengulangi informasi untuk berhenti menyusui jika usianya 2 tahun. Anak bukan enggak paham loh, usia-usia segitu sebenarnya mereka sedang merekam semua perilaku dan perkataan kita. Jadi ajak semua orang di rumah, sekolah dan lingkungan terdekat untuk selalu mengulang informasi yang sama, sampaikan ke anak bahwa jika ulang tahun ke 2 sudah tidak boleh menyusui.

PSBB (Pembatasan Susu Berskala Besar)

Sambil terus melakukan sosialisasi, mendekati beberapa bulan tenggat waktu untuk menyapih, lakukan juga pembatasan menyusui. Jika sebelumnya bisa menyusui dimana saja dan kapan saja, kali ini perkenalkan anak dengan aturan kapan boleh menyusui dan kapan tidak boleh menyusui. Pembatasan ini tidak berlaku ketat yah, bisa sangat fleksibel, tujuan sebenarnya bukan untuk benar-benar membatasi tapi lebih ke pemahaman dan penyadaran bahwa sudah ada aturan dan si anak enggak bisa semaunya menyusui. Contoh dari pembatasan menyusui ini misalnya, menyusui hanya boleh di tempat yang bersifat pribadi seperti di rumah, di mobil atau di ruang menyusui. Diluar tempat itu, lakukan penolakan dan berikan pengertian terlebih dahulu sebelum akhirnya tetap memberikan nenen. Ingat, tujuannya bukan benar-benar membatasi, tapi lebih mengajak dan menyadarkan si anak bahwa sekarang sudah ada aturan untuk menyusui. Ayah berperan untuk membantu mengingatkan dan mengalihkan perhatian anak. Perlu kreatifitas luar biasa dari si Ayah untuk hal ini.

Pada tahap ini lakukan juga pengurangan frekuensi menyusui, jam biasa menyusui bisa dialihkan dengan cemilan sehat atau jus segar buatan sendiri. Lakukan agar secara tidak sadar, si anak enggak paham bahwa sedang ada pengaturan frekuensi menyusui. Jika biasanya sehari bisa 3-4 kali menyusui, maka bisa dikurangi hingga 2-3 kali.

Bikin Rutinitas Baru

Rutinitas baru ini sebenarnya untuk mengalihkan perhatian si anak dari menyusui. Beberapa contoh rutinitas ini misalnya, ketika bangun pagi maka tugas Ayah untuk memandikan si anak dan memakaikan baju. Jika biasanya habis mandi langsung menyusui, maka baiknya disiapkan sarapan sehat atau jus buah rumahan lalu sebelum Ayah berangkat kerja si anak dibawa untuk jalan-jalan pagi terlebih dahulu. Malam hari, jika biasanya sebelum tidur si anak harus menyusui dulu, sekarang Ayah harus bantu cuci tangan, cuci kaki dan sikat gigi. Lalu baca cerita atau kruntelan aja sama Ayah di tempat tidur, seminim mungkin tidak melibatkan ibu menjelang tidur lebih baik, biasanya menyusui sebelum tidur malam ini jadi tantangan berat. Sering juga ada yang nanya, lalu jika anak terbangun malam hari gimana? Ya kalau haus cukup minum air putih. Kecuali, emaknya enggak tega. Haha

Hari H

Dalam kenyataannya, seringkali tenggat waktu ini lewat sedikit, bisa 2 tahun 2 bulan, 2 tahun 5 bulan atau 3 tahun. Pastikan Ibu dan Ayah selalu konsisten dan komit dengan kesepakatan di awal. Jika memang mau disapih pas usia 2 tahun, maka jika prosesnya melewati 2 tahun pastikan bahwa aturan menyusuinya diatur ketat. Dalam banyak kasus, ada juga yang memisahkan kamar tidur, misalnya Ayah dan anak tidur pada kamar lain dengan si Ibu. Bagaimana jika kesemua cara itu gagal? Ya udah nikmati saja proses menyusuinya, pada satu titik, anak juga akan menyapih dirinya sendiri kok.

Pesan dari kita hanya satu. Jangan mendadak berhenti menyusuinya. Ibarat mobil, penumpang pasti tidak nyaman jika mobil sedang melaju kencang lalu berhenti mendadak kan? Sama dengan payudara, jika biasanya ASI dikeluarkan secara rutin, lalu tiba-tiba tidak ada permintaan, yang terjadi adalah payudara akan membengkak. Jadi masalah baru deh.

Lima cara diatas hanya berdasar pengalaman, tentu tidak ada hal baku dalam proses menyapih ini, silahkan berkreasi dan bagi pengalamannya di sosial media AyahASI, yang jelas, pengasuhan ini milik bersama, jadi bikinnya berdua, yah ngurus anaknya juga berdua.


AyahASI Indonesia (Rahmat) | Untuk tahu lebih banyak soal AyahASI silahkan kunjungi sosial media kami di @ID_AyahASI dan website di www.ayahasi.org

Artikel di atas merupakan hasil kerjasama BukaReview dan AyahASI Indonesia dan dapat dilihat di bit.ly/BukaReviewXAyahASI6

Ayah, Manajer ASIP

Kita semua tahu cuti hamil dan melahirkan menjadi salah satu hak mutlak yang wajib didapatkan oleh karyawan perempuan. Ketentuan soal cuti hamil dan melahirkan ini bisa kite temukan Pasal 82 Undang-Undang No.13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, yang berbunyi:

  1. Pekerja perempuan berhak memperoleh istirahat selama 1,5 bulan sebelum saatnya melahirkan anak dan 1,5 bulan sesudah melahirkan menurut perhitungan dokter kandungan atau bidan.
  2. Selain itu pekerja perempuan yang mengalami keguguran berhak memperoleh istirahat 1,5 bulan atau sesuai dengan surat keterangan dokter kandungan atau bidan.

Pada prakteknya, banyak temen-temen yang mengambil cuti agak mepet ke Hari Perkiraan Lahir, ini tentu agar punya lebih banyak waktu di rumah dengan si buah hati. Jadi bisa fokus juga sama proses menyusui yang seringkali mengalami banyak tantangan di bulan-bulan awal kelahiran. Nah, terus bagaimana jika jatah cuti melahirkan sudah habis dan ibu harus kembali bekerja? Biasanya sih para ibu menyusui sudah menyiapkan strategi untuk bisa memerah ASI di kantor dan kemudian menyimpannya di rumah. Ayah bukan berarti tidak ada perannya di sini, justru Ayah bisa berperan sangat maksimal untuk membantu istri agar proses memerah ASI menjadi lancar dan penyimpanan ASIP tidak menemui kendala berarti.

Berikut beberapa hal yang bisa kita – para ayah – lakukan untuk membantu istri agar memerah ASI bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan.

  • Beliin ‘alat perang’ Memerah ASI

Bersama dengan istri, kita bisa membuat daftar “alat perang” dan tentu membelikan peralatan untuk memerah ASI, minimal yang perlu ada adalah: Pompa ASI; tapi jangan lupa untuk juga belajar memerah ASI dengan tangan, ini sangat berguna jika Pompa ASI ketinggalan atau mati lampu, dibanyak ibu, memerah ASI dengan tangan justru bisa hasilkan ASI Perah yang banyak, Cooler Bag + Ice Pack; sekadar informasi, ASIP pada cooler bag + ice pack bisa bertahan hingga 24 jam, menyimpannya di tas ini sangat cukup untuk perjalanan dari kantor ke rumah, Wadah ASIP; ada beberapa pilihan, botol kaca atau kantong ASIP, jika ingin disimpan di freezer, disarankan menggunakan botol kaca, kantong ASIP sebaiknya digunakan untuk penyimpanan sementara saja, Apron Menyusui; ini penting banget jika di kantor tidak menyediakan ruangan untuk memerah ASI secara khusus, jadi istri kita tidak perlu ke toilet atau sembunyi-sembunyi di pojok gudang, Breast Pad; sering banget ketika lagi memerah ASI di payudara kanan, eh yang kiri juga ikutan ngucur, ini normal aja karena pengaruh hormon oksitosin, Bra Menyusui; beli ini bro, biar enggak perlu membuka semua payudara ketika ingin memerah ASI.

  • Ingatkan Jadwal Memerah ASI

Bisa jadi istri lagi sibuk banget di kantor dan kelewatan jadwal memerah ASI, kita bisa bikin reminder dan kemudian mengingatkan istri untuk memerah ASI. Jadwal memerah ASI yang kita sarankan adalah:

  • Sebelum Berangkat Kerja: Menyusui langsung
  • Tiba di kantor: Perah ASI
  • Istirahat Siang: Perah ASI
  • Sebelum Pulang: Perah ASI
  • Sampai di Rumah: Menyusui sepuasnya

Ingatkan istri juga untuk memerah ASI pada kedua payudara secara bergantian. Memerah ASI sebenarnya tidak perlu ditarget, memang tidak ada batasan baku berapa lama harus memerah ASI, apakah harus sampai payudara terasa kosong? Atau harus 1 jam? Namun ada yang menyarankan bahwa memerah ASI sebenarnya cukup dilakukan selama 20-30 menit pada setiap sesinya, atau jika produksi ASI istri memang cepat, imbangi dengan memerah ASI hingga payudara terasa kosong. Sisi lain yang penting adalah motivasi, hormon oksitosin memegang peranan penting dalam mengeluarkan ASI dari payudara dan hormon ini akan meningkat jika perasan ibu senang dan tenang. Nah, sambil mengingatkan jadwal jangan lupa juga untuk mengirimkan kata-kata manis bin romantis nan gombal, misalnya begini,”Aku tahu satu jam itu 60 menit dan satu menit itu 60 detik. Tapi aku gak pernah tahu kalau satu detik tanpa kamu itu seperti seumur hidup”, atau begini, “eh beb, aku mau kirim foto kamu ke NASA ah, biar mereka pada tahu kalo aku nemuin yang lebih indah dari sekadar bintang”. Dijamin, bisa banjir itu ASI yang keluar bro.

  • Manajemen Penyimpanan ASIP di Rumah

Okeh, istri udah lancar memerah ASI di kantor, terus gimana kita nyimpannya di rumah? Bikin Label Botol ASIP; cari stiker label dengan ukuran 13×38 mm, lalu tuliskan Tanggal Perah dan Waktu Selesai Perah, Tentukan Mau Disimpan Lama atau Sebentar; penyimpanan di chiller bisa bertahan 3-7 hari, jadi jika sering digunakan sehari-hari sebenarnya tidak perlu masuk freezer agar tidak perlu ribed mencairkannya, tapi jika banyak stok, tentu bisa disimpan di freezer untuk waktu 3-6 bulan kedepan, Last in First Out (LIFO) dan First in First Out (FIFO); ASIP yang paling ideal adalah yang paling baru diperah atau segar, karena kandungannya paling mendekati kebutuhan bayi dan kualitasnya lebih baik dibandingkan yang sudah disimpan lebih lama. Namun, jika ibu memiliki cukup banyak stok ASIP, metode LIFO dapat digabungkan dengan metode FIFO. Pemberian label tanggal dan jam pada botol ASIP penting dilakukan untuk memudahkan saat memberikan ASIP untuk bayi.

  • Menyiapkan ASIP untuk di Konsumsi

Sekadar informasi, ASIP sebenarnya tidak perlu dihidangkan dengan suhu hangat. ASIP boleh saja dihidangkan dengan suhu dingin jika bayi suka dan tidak alergi dingin. ASIP Hangat hanya ingin menyesuaikan dengan kebiasaan bayi ketika menyusu langsung. Nah, ASIP yang tidak beku bisa langsung diberikan ke bayi atau dihangatkan terlebih dahulu dengan cara merendamnya di mangkuk yang berisi air hangat. Jika ASIP beku, siapkan dari malam sebelumnya, yaitu pindahkan ASIP beku ke chiller, harapannya ASIP ini bisa mencair dalam waktu semalam, nah ASIP beku yang mencair di kulkas ini bisa bertahan hingga 24 jam sejak mencair sepenuhnya. Jika sudah cair, bisa langsung dihidangkan atau dihangatkan dengan cara yang sama tadi.

Secara umum sih sebenarnya itu saja yang perlu disiapkan untuk mengatur penyimpanan ASI Perah, beberapa produsen botol ASIP juga sudah menyiapkan aplikasi untuk hal ini, agak lebih canggih, haha. Tahap selanjutnya adalah memberikan ASIP kepada bayi, nah ini bisa dilakukan dengan melihat caranya di youtube, ada banyak tutorial soal ini. AyahASI sih tidak merekomendasikan penggunaan botol-dot, jadi sebaiknya gunakan media lain seperti gelas kecil atau cup feeder. Dengan membantu penyimpanan ASIP ini paling tidak istri kita tidak akan pernah merasa berjuang sendirian untuk menyusui dan yang jelas jangan lupa pesan yang selalu kita sampaikan, bikinnya berdua, ngurus anaknya juga berdua.


AyahASI Indonesia (Rahmat-Utus) | Untuk tahu lebih banyak soal AyahASI silahkan kunjungi sosial media kami di @ID_AyahASI dan website di www.ayahasi.org

Artikel di atas merupakan hasil kerjasama BukaReview dan AyahASI Indonesia dan dapat dilihat di bit.ly/BukaReviewXAyahASI3