Serunya Belajar Ilmu Soal Menyusui Bersama Komunitas Ayah ASI

Menyusui bukan sekadar aktivitas fisik menyalurkan ASI dari ibu ke bayi. Lebih dari itu, menyusui juga melibatkan hormon-hormon yang berpengaruh terhadap perasaan dan emosi.

Tak jarang, masa menyusui bisa menjadi masa yang ‘berat’ bagi seorang ibu. Apalagi jika tidak didukung oleh orang-orang terdekat, seperti ayah.
Menyadari pentingnya dukungan ayah untuk ibu menyusui, kumparanMOM bekerja sama dengan komunitas Ayah ASI menggelar kelas khusus untuk para ayah dan calon ayah di kantor kumparan, Senin (29/7). Tujuannya agar mereka bisa memahami dan belajar menjadi support system terbaik ibu dalam proses menyusui.
Dalam acara ini, hadir Co-Founder Komunitas Ayah ASI, Agus Rahmat Hidayat dan Sogi Indra Dhuaja; konselor menyusui Ayah ASI, Wawan Sugianto; Ayah ASI Jakarta, Gamma Quieto; Ayah ASI Lampung, Reza Oskar; dan tentunya hadir pula pimpinan Redaksi kumparanMOM, Prameshwari Sugiri.
Wawan Sugianto memulai acara dengan menjelaskan tentang anatomi payudara. Tapi sebelum itu, Wawan mengajak 20 orang ayah dan calon ayah yang merupakan karyawan kumparan untuk menggambarkan seperti apa anatomi payudara sebagai penyalur ASI. Para peserta diajak untuk membayangkan dan menjelaskan struktur-struktur yang ada di dalam payudara hingga bisa memproduksi ASI.
“ASI terbentuk di jaringan yang dinamakan alveoli. Lalu menuju puting payudara,” kata salah satu peserta saat diminta menjelaskan anatomi yang dibuatnya.
Ada 2 hormon yang dibutuhkan agar payudara bisa memproduksi ASI, yaitu hormon prolaktin dan hormon oksitosin.
“Hormon prolaktin adalah hormon untuk memproduksi ASI. Biasanya hormon ini keluar pada malam hari. Ketika bayi menyusu, maka otak akan memerintahkan prolaktin mengeluarkan ASI. Sementara oksitosin adalah hormon yang mengaliri ASI. Jadi ketika mulut bayi menyentuh areola, secara alami ASI itu keluar,” kata Wawan.
Hormon oksitosin sering disebut juga hormon bahagia. Terhambatnya hormon oksitosin tentunya bisa membuat produksi ASI berkurang.
Lantas, apa yang menyebabkan hormon oksitosin bisa terhambat?
Penyebabnya banyak, Moms. Wawan menyebutkan faktor terlalu lelah, stres dan perasaan tidak bahagia bisa menjadi penyebab utamanya terhambatnya hormon oksitosin. Nah, di sinilah peran suami sangat dibutuhkan untuk membuat ibu bahagia, sehingga ASI yang diproduksi bisa lancar.
“Ibu menyusui itu mudah terpengaruh. Mendengar komentar dari tetangga saja bisa langsung tersinggung. Oleh sebab itu, perhatian suami sangat penting. Ketahui apa yang bisa dilakukan oleh kita untuk kebahagiaan istri. Misalnya memberi voucher belanja, hahaha. Tapi yang terpenting ibu harus percaya diri untuk memberikan ASI,” jelas Wawan.
Selain memberikan kasih sayang kepada ibu, Wawan menambahkan, ayah juga harus memberikan perhatian kepada si bayi. Ayah harus turut memastikan nutrisi bayi tercukupi. Salah satunya dengan mendukung pemberian ASI eksklusif hingga usia bayi 6 bulan, dan dilanjutkan pemberiannya hingga si kecil berusia 2 tahun atau lebih dengan disertai pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang bergizi.
Di akhir acara, komedian dan presenter, Sogi Indra Dhuaja menambahkan, pemberian ASI sangat penting untuk perkembangan otak bayi, setidaknya untuk mendukung tumbuh kembang anak di 1000 hari pertama atau hingga usia si kecil 2 tahun.
“Ingat 1000 hari pertama, yaitu dari bayi masih berada di dalam kandungan hingga berusia 2 tahun. Di situ, otak anak itu bisa berkembang hingga 80 persen. Bayangkan 80 persen itu berkembang besar sekali. Di usia anak 2 tahun lewat sehari hingga dia dewasa perkembangan otaknya itu hanya tinggal 20 persen. Jadi penting sekali memperhatikan tumbuh kembang anak di dua tahun pertama, salah satunya dengan memberikan ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya,” tutup Sogi.

    Leave Your Comment Here