Menyapih Dengan Ayah

Menyapih dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia memiliki makna menyarak (menghentikan anak menyusu). AyahASI pernah bikin survey kecil-kecilan di twitter menanyakan siapa sebenarnya yang lebih sedih ketika waktu menyapih sudah tiba. Jawaban yang paling banyak adalah, Ibu. Menyapih ini memang harus dilalui dengan drama, baik di ibunya, anaknya bahkan bisa jadi Ayahnya. Film Milly & Mamet karya Ernest Prakasa menampilkan adegan kerewelan Ayah dalam isu menyapih ini dengan apik.

Kenapa dibilang bukan tugas ibu saja? menurut kita, Ayah justru lebih berperan banyak dalam proses menyapih ini, kenapa? Karena begitu anak nyium bau ibunya, bawaannya selalu pengen nenen aja. Ayah sama Anak sama aja kalo soal ini, maunya nempel aja. Haha. Dalam proses menyapih sebaiknya dihindari menggunakan hal-hal yang memaksa anak untuk berhenti menyusui, misalnya dengan memberi pahit-pahitan atau memanggil dukun. Ingat enggak? Waktu kita minta anak untuk menyusui enggak pakai paksa-paksaan kan? Nah, berhenti menyusui juga sebaiknya tidak perlu dipaksa. Pakai kasih sayang gitu kan lebih baik. Perlu diingat, berhenti menyusui butuh proses, jangan mendadak. Jadi kalo besok hari anaknya udah berusia 2 tahun, yah bukan berarti langsung stop menyusui. Dari pengalaman, minimal butuh waktu 3-6 bulan untuk berproses menyapih ini hingga pada Hari H. Mudahnya, kita paparkan dalam 5 langkah berikut.

  • Tetapkan Tenggat Waktu

Tidak perlu nunggu anak kita berusia 2 tahun baru mikir kapan menyapih, lebih baik semenjak usia 6 bulan atau 1 tahun udah mulai tentukan kapan anak akan disapih. Ini kesepakatan si ibu dan si ayah, yang jelas Kementerian Kesehatan dan WHO merekomendasikan bahwa sebaiknya meneruskan menyusui hingga anak berusia 2 tahun. Kenapa tenggat waktu ini penting, karena jika memutuskan anak akan disapih saat usia 2 tahun, maka sebaiknya proses menyapih sudah dimulai sejak anak berusia 1 atau 1.5 tahun.

  • Sosialisasi Itu Penting

Seperti yang sudah sering dibilang, menyusui butuh dukungan semua pihak, termasuk dari seluruh anggota keluarga. Pun termasuk soal menyapih ini, juga membutuhkan dukungan semua pihak. Sosialisasi ini penting agar anak dan keluarga paham bahwa kita sedang melakukan proses menyapih. Sosialisasi ini juga penting agar anak merasa dilibatkan dalam proses menyapih. Enggak perlu sampe bikin kampanye di sosia media atau bikin petisi juga sih. Sosialisasi yang dimaksud adalah mengulangi informasi untuk berhenti menyusui jika usianya 2 tahun. Anak bukan enggak paham loh, usia-usia segitu sebenarnya mereka sedang merekam semua perilaku dan perkataan kita. Jadi ajak semua orang di rumah, sekolah dan lingkungan terdekat untuk selalu mengulang informasi yang sama, sampaikan ke anak bahwa jika ulang tahun ke 2 sudah tidak boleh menyusui.

  • Membatasi Menyusui

Sambil terus melakukan sosialisasi, mendekati beberapa bulan tenggat waktu untuk menyapih, lakukan juga pembatasan menyusui. Jika sebelumnya bisa menyusui dimana saja dan kapan saja, kali ini perkenalkan anak dengan aturan kapan boleh menyusui dan kapan tidak boleh menyusui. Pembatasan ini tidak berlaku ketat yah, bisa sangat fleksibel, tujuan sebenarnya bukan untuk benar-benar membatasi tapi lebih ke pemahaman dan penyadaran bahwa sudah ada aturan dan si anak enggak bisa semaunya menyusui. Contoh dari pembatasan menyusui ini misalnya, menyusui hanya boleh di tempat yang bersifat pribadi seperti di rumah, di mobil atau di ruang menyusui. Diluar tempat itu, lakukan penolakan dan berikan pengertian terlebih dahulu sebelum akhirnya tetap memberikan nenen. Ingat, tujuannya bukan benar-benar membatasi, tapi lebih mengajak dan menyadarkan si anak bahwa sekarang sudah ada aturan untuk menyusui. Ayah berperan untuk membantu mengingatkan dan mengalihkan perhatian anak. Perlu kreatifitas luar biasa dari si Ayah untuk hal ini.

Pada tahap ini lakukan juga pengurangan frekuensi menyusui, jam biasa menyusui bisa dialihkan dengan cemilan sehat atau jus segar buatan sendiri. Lakukan agar secara tidak sadar, si anak enggak paham bahwa sedang ada pengaturan frekuensi menyusui. Jika biasanya sehari bisa 3-4 kali menyusui, maka bisa dikurangi hingga 2-3 kali.

  • Bikin Rutinitas Baru

Rutinitas baru ini sebenarnya untuk mengalihkan perhatian si anak dari menyusui. Beberapa contoh rutinitas ini misalnya, ketika bangun pagi maka tugas Ayah untuk memandikan si anak dan memakaikan baju. Jika biasanya habis mandi langsung menyusui, maka baiknya disiapkan sarapan sehat atau jus buah rumahan lalu sebelum Ayah berangkat kerja si anak dibawa untuk jalan-jalan pagi terlebih dahulu. Malam hari, jika biasanya sebelum tidur si anak harus menyusui dulu, sekarang Ayah harus bantu cuci tangan, cuci kaki dan sikat gigi. Lalu baca cerita atau kruntelan aja sama Ayah di tempat tidur, seminim mungkin tidak melibatkan ibu menjelang tidur lebih baik, biasanya menyusui sebelum tidur malam ini jadi tantangan berat. Sering juga ada yang nanya, lalu jika anak terbangun malam hari gimana? Ya kalau haus cukup minum air putih. Kecuali, emaknya enggak tega. Haha

  • Hari H

Dalam kenyataannya, seringkali tenggat waktu ini lewat sedikit, bisa 2 tahun 2 bulan, 2 tahun 5 bulan atau 3 tahun. Pastikan Ibu dan Ayah selalu konsisten dan komit dengan kesepakatan di awal. Jika memang mau disapih pas usia 2 tahun, maka jika prosesnya melewati 2 tahun pastikan bahwa aturan menyusuinya diatur ketat. Dalam banyak kasus, ada juga yang memisahkan kamar tidur, misalnya Ayah dan anak tidur pada kamar lain dengan si Ibu. Bagaimana jika kesemua cara itu gagal? Ya udah nikmati saja proses menyusuinya, pada satu titik, anak juga akan menyapih dirinya sendiri kok.

Pesan dari kita hanya satu. Jangan mendadak berhenti menyusuinya. Ibarat mobil, penumpang pasti tidak nyaman jika mobil sedang melaju kencang lalu berhenti mendadak kan? Sama dengan payudara, jika biasanya ASI dikeluarkan secara rutin, lalu tiba-tiba tidak ada permintaan, yang terjadi adalah payudara akan membengkak. Jadi masalah baru deh.

Lima cara diatas hanya berdasar pengalaman, tentu tidak ada hal baku dalam proses menyapih ini, silahkan berkreasi dan bagi pengalamannya di sosial media AyahASI, yang jelas, pengasuhan ini milik bersama, jadi bikinnya berdua, yah ngurus anaknya juga berdua.


AyahASI Indonesia (Rahmat) | Untuk tahu lebih banyak soal AyahASI silahkan kunjungi sosial media kami di @ID_AyahASI dan website di www.ayahasi.org

Artikel di atas merupakan hasil kerjasama BukaReview dan AyahASI Indonesia dan dapat dilihat di bit.ly/BukaReviewXAyahASI6

    Leave Your Comment Here