Agar Anak Doyan Makan

Sebelum bicara soal anak doyan makan, kita perlu paham bahwa jika soal makanan, baik anak-anak maupun dewasa pasti picky eater, ya kan? Apa kita enggak milih-milih jika mau makan siang? Hari ini lagi suka makanan A, besok maunya makanan B. Jadi dalam hal memilih makanan, kita semua memilih kok mau makan apa. Jangan cepat memberi label anak jika ia picky eater.

Hal yang paling sering dikeluhkan oleh orang tua adalah soal GTM, ini istilah untuk Gerakan Tutup Mulut. Sejatinya tidak ada yang namanya anak tidak mau makan, yang ada hanyalah anak belum mau makan. Kita sering tanya, apa benar anak tidak mau makan? Jika tidak mau makan nasi, lalu dia makan apa? Seringnya minum susu sih, kita tanya lagi, kalo jajan, iyah itu juga. Lah, jadi kan anaknya mau makan dong? Hanya masalahnya tidak mau makan nasi aja. Jadi ini sebenarnya bukan masalah anak tidak mau makan, tapi tentang pola makan.

Kita percaya bahwa makan bukan hanya soal fisik makanan di piring dengan mulut kita saja. Ada aspek komunikasi, disiplin, kemandirian dan isu pengasuhan lainnya. Lalu apa saja yang bisa kita siapkan agar anak lancar makannya jika sudah selesai ASI Eksklusif selama 6 bulan?

  • Kenalkan Rasa Lapar Dan Beri Respon

Sebenarnya kita sudah menjalankan ini ketika menyusui. Si anak menyusui kapan pun dia mau ketika dia merasa lapar. Jika anak lapar, pasti dia merengek dan ibu menyodorkan payudaranya. Secara alami manusia udah dikasih rasa lapar. Prinsipnya sederhana, kalo lapar maka kita akan makan. Ini ga terjadi secara tiba-tiba tapi ada hormon yang mengaturnya.  Jadi sebenarnya anak ga akan membiarkan dirinya kelaparan. Pertanyaan mendasar buat kita orang tua adalah? Apakah anak kita merasa lapar? Atau hanya kita yang mengira-ngira kalo anak kita lapar? Seringkali kita merasa khawatir anak akan lapar, padahal ketika menyusui kan si anak yang minta sendiri? Lupa yak? Karena khawatir berlebihan, akhirnya kita kasih apa saja agar anak makan, kita lupa bahwa makan apa saja bisa pengaruhi nafsu makan anak. Ketika waktu makan keluarga tiba, anak sudah kenyang dan tidak mau makan. Anaknya lagi disalahkan karena tidak mau makan. Capek deh. Jadi, mari kita pelajari tanda anak lapar dan berikan respon yang tepat untuk ini.

  • Jangan Paksa Dong

Sabar, jangan dipaksa jika anak belum mau makan. Anak punya jadwal lapar yang berbeda dengan orang dewasa, jangan disamakan. Ini kenapa kita perlu responsive atas tanda lapar si anak tadi. Jika belum mau makan, hentikan kegiatan makan. Lalu ulangi lagi sekitar 2-3 jam dengan rasa dan menu yang berbeda. Dalam 2-3 jam tadi jangan dikasih cemilan atau susu tapi yah, karena hal tersebut akan menganggu nafsu makannya. Orang tua cukup menjadi fasilitator saja, tawarkan anak untuk makan lalu lihat reaksinya. Jangan sampai anak trauma atau bahkan tidak menyukai waktu makan.

  • Makanan Rumahan

Banyak orang tua yang memiliki pemikiran bahwa makanan bayi dan makanan orang dewasa di rumah harus berbeda. Padahal menunya bisa sama loh, jadi kita enggak repot harus bikin dua masakan yang berbeda. Samakan menunya, rasa tentu disesuaikan dan bedakan cara penyajiannya. Jadi jika Ibu masak ikan, yah buat anak sajikan ikan juga, ibu bikin tempe balado, yah buat anak tempe juga tetapi jangan pedas. Jadi kita tidak perlu membeli makan instan, cukup makanan sesuai pedoman gizi seimbang dan tentu agar terus update gosip tetangga dari mas tukang sayur.

  • Panduan Cara Penyajian, Tekstur dan Frekuensi Makan

WHO dan UNICEF mengeluarkan panduan terkait dengan panduan cara penyajian, tekstur dan frekuensi makan untuk anak. Gunakan selalu bahan pangan lokal sesuai pedoman gizi seimbang. Secara garis besar berikut adalah panduannya:

  1. Usia 0-6 bulan: ASI Eksklusif
    1. Usia 6-9 Bulan: Lanjutkan menyusui, makanan dibuat dengan disaring dan tekstur makanan lumat dan kental. Frekuensi makannya adalah 2-3x makan dengan 1-2x selingan, banyaknya adalah 2-3 sendok makan dan naik bertahap hingga 125ml.
    1. Usia 9-12 Bulan: Lanjutkan menyusui, bahan makanan sama dengan orang dewasa, tekstur makanan dicincang/dicacah, dipotong kecil dan selanjutnya makanan yang diiris-iris. Perhatikan respon anak saat makan. Frekuensi makannya adalah 3-4x makan dengan 1-2x selingan, banyaknya adalah 125ml dan naik bertahap hingga 200ml.
    1. Usia 12-24 Bulan: Lanjutkan menyusui hingga 2 tahun atau lebih, bahan makanan sama dengan orang dewasa, tekstur makanan diiris-iris. Perhatikan respon anak saat makan. Frekuensi makannya adalah 3-4x makan dengan 1-2x selingan, banyaknya adalah 200ml dan naik bertahap hingga 250ml.
  • Minimalisasi Gangguan

Oke, bagian ini seringkali dikeluhkan sama banyak orang tua. Tapi jika permasalahan ini tidak selesai akan mempengaruhi perkembangannya nanti. Padahal permasalahan makan harusnya sudah selesai dalam tahap tumbuh kembang anak saat ia berusia 3 tahun. Ganggungan paling sering adalah memberikan gawai agar anak bisa duduk tenang. Ini balik lagi soal kedisiplinan di keluarga sih, jika waktu makan yah sebaiknya memang fokus pada makan saja. Tidak ada TV atau mainan lainnya yang bisa menganggu konsentrasi anak. Tujuannya lagi-lagi bukan sekadar anak makan saat itu saja, tapi dalam jangka panjang kita berharap anak akan minta makan ketika dia merasa dirinya lapar, anak bisa makan sendiri tanpa harus kita suapin.

Nah, kamu sendiri punya tips dan trik apa agar anak bisa doyan makan, bagi dong pengalamannya sama kita di sosial media AyahASI, yang jelas, pengasuhan ini milik bersama, jadi bikinnya berdua, yah ngurus anaknya juga berdua.


AyahASI Indonesia (Rahmat) | Untuk tahu lebih banyak soal AyahASI silahkan kunjungi sosial media kami di @ID_AyahASI dan website di www.ayahasi.org

Artikel di atas merupakan hasil kerjasama BukaReview dan AyahASI Indonesia dan dapat dilihat di bit.ly/BukaReviewXAyahASI8

    Leave Your Comment Here